Ali Syahbana: Etika yang Terlupakan, Ketika Adab Tak Lagi Jadi Pegangan di Era Digital

- Jurnalis

Rabu, 23 Juli 2025 - 21:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Martapura, matarakyat.co.id – Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya kontestasi narasi di ruang digital, keluhan mengenai lunturnya etika dan adab semakin sering terdengar di masyarakat.

Ungkapan seperti “Zaman sekarang sudah tidak ada etika,” menjadi refleksi keresahan kolektif atas memudarnya sopan santun, rasa hormat, dan kehalusan budi pekerti.

Namun pertanyaannya, benarkah etika telah hilang? Ataukah ia hanya tertutup debu zaman yang lebih mementingkan kecepatan ketimbang keteduhan?

Etika dalam Tradisi Islam dan Dunia Pesantren

Dalam perspektif Islam, khususnya tradisi pesantren, etika bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama peradaban.

Etika adalah cerminan dari kedalaman iman dan kematangan akal. Para santri di pesantren tidak hanya diajarkan ilmu, namun terlebih dahulu diajarkan adab.

“Etika bukan hanya urusan hubungan personal, tetapi jalinan nilai yang menjaga harmoni sosial,” ujar M. Ali Syahbana, Sekretaris LDNU Banjar.

Menurutnya, etika adalah benang halus yang menyatukan hubungan antara generasi, antara pemimpin dan rakyat, guru dan murid, bahkan antara manusia dengan Tuhannya.

Ketika etika ditanggalkan, bukan kebebasan yang lahir, melainkan kekacauan.

Baca Juga :  Serangan Kera Liar di Perbatasan Aluh Aluh–Beruntung Baru Makan 10 Korban, Warga Ketakutan

Adab Bisa Hilang dari Siapa Saja

Fenomena hilangnya adab bukan hanya terjadi di kalangan tertentu. Ia bisa lenyap dari siapa saja: mulai dari pedagang pasar, pemuda jalanan, hingga pejabat tinggi di ruang sidang.

Di dunia maya, kebebasan berpendapat sering kali menjelma menjadi hujatan tanpa dasar, bahkan oleh mereka yang mengklaim berilmu dan beriman.

Jabatan dan pendidikan tinggi nyatanya tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan sikap.

Kadang, mereka yang berdakwah pun tergelincir, menyakiti saudara seiman hanya karena perbedaan pandangan.

“Kita hidup di zaman di mana popularitas tidak selalu bersanding dengan akhlak,” tulis Ali menegaskan pentingnya kerendahan hati dan kesadaran batin dalam menjaga etika.

Bentuk Mengalahkan Makna

Di era yang serba visual ini, bentuk dan citra sering kali lebih diprioritaskan daripada makna dan isi.

Orang berlomba membangun persona, namun lupa menata batin.

Banyak yang cepat menegur, tetapi enggan berkaca. Padahal, dalam Islam, ilmu yang bermanfaat mestinya melahirkan kehalusan tutur dan sikap yang lembut.

Rasulullah ﷺ menjadi teladan tidak hanya karena wahyu yang dibawa, tetapi karena akhlak beliau yang mulia.

Baca Juga :  RTH CBS Martapura Usai Direhabilitasi Rp8 Miliar, Kondisi Lapangan Jadi Sorotan

Ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah, ia menjawab, “Akhlaknya adalah al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Dakwah Etika di Era Kegelisahan

Tantangan dakwah hari ini bukan hanya menyampaikan kebenaran, tetapi menyampaikannya dengan adab.

Inilah pentingnya dakwah bil hikmah, dakwah dengan kelembutan, keteladanan, dan ketenangan.

Sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama, Lembaga Dakwah (LDNU) memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga nilai-nilai etika dalam kehidupan sosial.

Bukan hanya sebagai penyeru kebaikan, tetapi juga penjaga akhlak dan peradaban.

“Selama masih ada yang memperjuangkan etika, maka peradaban belum benar-benar runtuh,” pungkas Ali.

Menyalakan Ulang Kesadaran

Daripada terus mengeluhkan kondisi zaman, langkah awal yang bisa dilakukan adalah memperbaiki diri sendiri.

Menjaga lisan, menundukkan ego, serta meneladani adab dalam keseharian.

Sebagaimana pepatah bijak mengatakan, “Adab bukan sesuatu yang diajarkan dengan lisan, tapi diwariskan melalui keteladanan.”

Selama etika masih hidup di hati sebagian orang, maka harapan untuk lahirnya zaman yang lebih teduh dan beradab akan terus menyala.

Berita Terkait

Helda Rina Sidak MPLS dan Makan Bergizi Gratis, Soroti Kenyamanan Siswa Baru
Anggaran Rp300 Juta, Seberapa Efektif Nanang Galuh Promosikan Wisata Banjar?
Usai Dilantik, Pengurus Tani Merdeka Banjar Diminta Aktif Kawal Program Pertanian
Dua Aduan Dilayangkan ke Inspektorat Banjar, Warga Soroti Bantuan Beras dan Anggaran Desa
Berkah Turnamen Kapolres Tanah Bumbu Cup 2026, Pedagang UMKM Raup Rezeki di Tengah Semarak Bola Voli
Kasi Pidum Kejari Banjar Terbitkan Buku, Tawarkan Konsep Kejaksaan Jadi Pengelola Aset demi Hak Korban
Begal Payudara Resahkan Martapura, Rofiqi Desak Aparat Bertindak Tegas dan Cepat
Ribuan Pasang Mata Diprediksi Saksikan BUSER CUP 690, Arena Adu Ketangkasan Damkar se-Kalsel

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 13:22 WITA

Helda Rina Sidak MPLS dan Makan Bergizi Gratis, Soroti Kenyamanan Siswa Baru

Senin, 6 Juli 2026 - 13:17 WITA

Anggaran Rp300 Juta, Seberapa Efektif Nanang Galuh Promosikan Wisata Banjar?

Minggu, 28 Juni 2026 - 16:20 WITA

Usai Dilantik, Pengurus Tani Merdeka Banjar Diminta Aktif Kawal Program Pertanian

Sabtu, 27 Juni 2026 - 16:27 WITA

Dua Aduan Dilayangkan ke Inspektorat Banjar, Warga Soroti Bantuan Beras dan Anggaran Desa

Rabu, 24 Juni 2026 - 20:56 WITA

Berkah Turnamen Kapolres Tanah Bumbu Cup 2026, Pedagang UMKM Raup Rezeki di Tengah Semarak Bola Voli

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:19 WITA

Kasi Pidum Kejari Banjar Terbitkan Buku, Tawarkan Konsep Kejaksaan Jadi Pengelola Aset demi Hak Korban

Rabu, 17 Juni 2026 - 22:14 WITA

Begal Payudara Resahkan Martapura, Rofiqi Desak Aparat Bertindak Tegas dan Cepat

Kamis, 11 Juni 2026 - 22:23 WITA

Ribuan Pasang Mata Diprediksi Saksikan BUSER CUP 690, Arena Adu Ketangkasan Damkar se-Kalsel

Berita Terbaru

Politik

PPP Banjar Targetkan 10 Kursi DPRD pada Pemilu 2029

Selasa, 28 Jul 2026 - 08:32 WITA

Advetorial

Gelar Reses, Ketua DPRD Tanbu Serap Aspirasi Masyarakat

Kamis, 23 Jul 2026 - 17:49 WITA