Martapura,matarakyat.co.id Kasus pembacokan yang terjadi di Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, menjadi perhatian berbagai pihak.
Peristiwa yang viral di media sosial itu turut mendapat sorotan dari pengamat sosial sekaligus praktisi pikiran bawah sadar, M Ali Syahbana.
Ali Syahbana menilai, tindakan kekerasan yang diduga dipicu tekanan batin dan gangguan emosi tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan kriminal semata.
Menurutnya, kondisi mental seseorang juga perlu menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat.
Ia menjelaskan, manusia memiliki dua sistem kendali utama, yakni pikiran sadar yang berhubungan dengan logika dan moral, serta pikiran bawah sadar yang berkaitan dengan emosi dan insting.
Ketika tekanan hidup terus dipendam tanpa penanganan yang tepat, keseimbangan tersebut dapat terganggu.
“Dalam kondisi tertentu, pikiran bawah sadar bisa mengambil alih kendali tubuh secara otomatis,” ujar Ali Syahbana.
Menurutnya, fenomena munculnya bisikan atau dorongan internal sebelum seseorang melakukan tindakan ekstrem dapat terjadi akibat akumulasi tekanan psikologis yang tidak tersalurkan dengan baik. Ia mengibaratkan kondisi itu seperti bendungan yang terus menahan tekanan hingga akhirnya jebol.
Ali Syahbana juga mendorong Pemerintah Kabupaten Banjar untuk menghadirkan layanan khusus yang berfokus pada kesehatan mental dan manajemen pikiran sehat bagi masyarakat.
Program tersebut dinilai penting sebagai ruang konsultasi aman bagi warga yang mengalami tekanan hidup.
Ia menambahkan, edukasi mengenai pengelolaan stres dan kesehatan mental perlu diperluas agar masyarakat tidak memendam persoalan sendirian hingga memicu tindakan berbahaya.
Kasus pembacokan di Sungai Pinang sebelumnya viral setelah seorang pria diduga menyerang tiga orang menggunakan senjata tajam.
Dalam kejadian tersebut, satu korban dilaporkan meninggal dunia, sementara pelaku telah diamankan aparat kepolisian untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.






