Martapura, matarakyat.co.id – Dinas Pertanian Kabupaten Banjar melalui Bidang Pengendalian dan Penanggulangan Bencana Pertanian menggelar kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahun 2026 di Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, Selasa (19/5/2026).
Kegiatan perdana tersebut dilaksanakan bersama Kelompok Tani Mufakat sebagai upaya meningkatkan pemahaman petani terhadap perubahan iklim yang berdampak pada sektor pertanian.
Program literasi iklim ini bertujuan membantu petani mengambil keputusan strategis dalam pengelolaan lahan dan penentuan jadwal tanam secara mandiri.
Dengan pemahaman tersebut, petani diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi, mengurangi risiko serangan hama dan penyakit tanaman, serta mendukung ketahanan pangan nasional.
Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Retno Sri Murwani beserta jajaran, Camat Sungai Tabuk, perwakilan BRMP, BPTPH, BMKG, penyuluh pertanian lapangan (PPL) Sungai Tabuk, aparat Desa Sungai Tabuk Keramat, dan anggota Kelompok Tani Mufakat.
Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Retno Sri Murwani, mengatakan sektor pertanian saat ini menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim ekstrem yang memengaruhi pola tanam dan produktivitas pertanian.
“Ketidakteraturan cuaca dan pergeseran musim tanam membuat petani kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk menanam maupun memanen. Kondisi ini juga berdampak pada meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman,” ujarnya.
Menurut Retno, Sekolah Lapang Iklim menjadi salah satu langkah adaptasi berkelanjutan yang disiapkan pemerintah untuk membantu petani menghadapi dampak perubahan iklim.
Ia menjelaskan, program tersebut akan berlangsung dalam beberapa kali pertemuan, mulai dari masa awal tanam hingga panen pada bulan kedelapan.
“Melalui kegiatan ini, petani diajarkan memahami prakiraan cuaca, mengamati parameter iklim, serta memanfaatkan aplikasi digital guna meminimalkan risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem,” kata Retno.
Dengan adanya Sekolah Lapang Iklim, pemerintah berharap para petani mampu lebih adaptif terhadap perubahan cuaca sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga.






