Martapura,matarakyat.co.id Di tengah maraknya dakwah satu arah yang lebih banyak berbentuk ceramah, Muhammad Ali Syahbana memilih pendekatan berbeda. Ia menempuh jalur diskusi, percakapan, dan literasi sebagai medium menyampaikan nilai-nilai keagamaan.
Bagi pria kelahiran Martapura, 24 Februari 1988 itu, dakwah di kalangan anak muda bukan soal siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang mampu mengajak berpikir secara jernih.
“Anak muda hari ini cenderung kritis. Kalau hanya diminta menerima tanpa ruang bertanya, pesannya cepat hilang,” ujar Ali saat berbincang, belum lama tadi.
Ia melihat kegelisahan yang sama di kalangan generasi muda: keinginan memahami agama dan kehidupan secara mendalam, namun minim ruang aman untuk berdialog. Dari keresahan itulah, dakwah intelektualnya berangkat.
Saat ini, Ali juga mengemban amanah sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren Syafa’at Bukhari Muslim di Desa Sungai Landas, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Di lembaga itu, ia mendorong pendidikan berbasis adab, keluasan wawasan, serta keseimbangan nalar dan spiritualitas.
Ketertarikannya pada dunia ilmu telah tumbuh sejak kecil. Ia banyak menghabiskan masa kanak-kanak bersama Habib Muhsin bin Husein Al Haddad di Solo, yang membimbingnya sejak usia taman kanak-kanak hingga sekitar 10 tahun. Dari lingkungan tersebut, ia belajar pentingnya adab dan pengelolaan hati.
Meski tidak menempuh pendidikan formal pesantren secara penuh, Ali mengakui atmosfer keilmuan pesantren membentuk karakter berpikirnya. Ia memperdalam ilmu melalui berbagai jalur, termasuk mengaji secara informal bersama pamannya yang memimpin pesantren tersebut.
Menulis sebagai Jalan Dakwah
Kegelisahan intelektualnya melahirkan buku pertama berjudul Awal Perjalanan: Buku Saku tentang Kehidupan yang terbit pada 22 Oktober 2015. Buku setebal 132 halaman itu tampil sederhana, bahkan setiap halamannya hanya memuat satu kutipan reflektif.
Sekilas, buku tersebut tampak minimalis. Namun di balik kesederhanaannya, pembaca menemukan rangkaian renungan tentang ketuhanan, adab, perilaku manusia, hingga relasi batin dengan Sang Pencipta.
“Setiap orang bisa menangkap makna berbeda, tergantung suasana hati dan latar belakangnya,” tutur Ali.
Ia menjelaskan, buku itu memang dirancang untuk dibaca perlahan, dengan ruang dan waktu khusus agar pesannya benar-benar meresap. Sebagian pembaca dengan latar teologis melihatnya sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan, sementara kalangan profesional justru memaknainya sebagai motivasi hidup.
Salah satu kutipan yang kerap diingat berbunyi, “Hidup ini seperti cermin, kita melihat apa pun yang kita lakukan.” Menurut Ali, pesan tersebut sederhana: manusia akan memetik hasil dari apa yang ditanamnya.
Proses penulisan buku itu dimulai sejak 2014. Setiap kalimat lahir dari perenungan panjang. Sejak awal, ia meniatkannya sebagai medium dakwah, bukan komoditas komersial.
Sebanyak 150 eksemplar dicetak menggunakan biaya pribadi dan dibagikan kepada kolega serta kerabat. Buku tersebut sempat mendapat perhatian almarhum Nadjmi Adhani, Wali Kota Banjarbaru periode 2016–2020, yang meminta agar dicetak ulang sebagai cendera mata tamu. Almarhum KH Khalilurrahman, Bupati Banjar periode 2016–2021, juga disebut menilai buku itu memiliki kedalaman makna batin yang kuat.
Guru Diskusi bagi Anak Muda
Komitmennya pada dakwah dialogis diwujudkan melalui Komunitas Teduh Pikir, ruang diskusi yang ia dirikan sebagai alternatif dari pola dakwah konvensional.
Di komunitas tersebut, agama tidak diposisikan sebagai dogma yang diturunkan sepihak, melainkan nilai yang dipahami bersama melalui dialog. Metode yang digunakan merujuk pada pendekatan tanya-jawab ala Socrates, yakni menggugah peserta menemukan pemahaman melalui pertanyaan reflektif.
“Tujuan kami bukan menyediakan semua jawaban, tetapi melatih cara berpikir yang jernih dan beretika,” ungkapnya.
Diskusi digelar rutin setiap bulan dan diikuti pemuda dari Banjarbaru, Banjarmasin, Kabupaten Banjar, hingga Balangan. Pendekatan ini membuat dakwahnya mudah diterima kalangan mahasiswa. Sebagian menyebutnya sebagai guru spiritual, bukan karena memberikan jawaban mutlak, melainkan karena membuka ruang refleksi.
“Di Teduh Pikir, perbedaan bukan ancaman. Justru itu pintu dialog,” katanya.
Selain aktif berdiskusi dan menulis, Ali tetap membumikan gagasannya melalui pengelolaan yayasan pendidikan. Ia menekankan pentingnya pendidikan agama yang selaras dengan realitas sosial dan kebangsaan.
Lahir dari Kegelisahan Zaman
Gagasan itu kembali ia tuangkan dalam buku Teduh Pikir, karya kolektif komunitas yang ditujukan sebagai teman mental bagi masyarakat. Buku tersebut lahir dari kegelisahan melihat banyak orang tenggelam dalam kesibukan tanpa ruang merenung.
“Pikiran, hati, dan perasaan perlu waktu untuk dipahami,” ujarnya.
Penjualan buku dilakukan tanpa orientasi keuntungan. Seluruh hasilnya disalurkan untuk pendidikan anak yatim dan dhuafa di bawah yayasan yang dipimpinnya. Menurutnya, dakwah tidak boleh berhenti pada gagasan, melainkan harus bermuara pada manfaat sosial.
Di tengah arus informasi cepat dan polarisasi yang kian terasa, jalan dakwah yang ditempuh Ali memang tidak selalu populer. Namun di situlah letak kekuatannya: tidak menghakimi, tidak memaksa, dan tidak tergesa.
“Dalam hidup, kita mungkin tak bisa memilih angin yang datang. Tapi kita selalu bisa memilih bagaimana meneduhkan hati di tengah tiupan itu,” jelasnya.
Ia menegaskan, buku Teduh Pikir bukan jawaban atas semua pertanyaan. Melainkan jendela kecil untuk mengingatkan bahwa ketenangan dibangun perlahan dari dalam diri.
“Kalau ada satu hal yang ingin saya titipkan, semoga setiap renungan dalam buku ini bisa menjadi pelita kecil,” imbuhnya.
Bukan cahaya yang menyilaukan, lanjutnya, melainkan cukup untuk menemani langkah agar tetap tenang dan sadar.
“Anak muda tidak perlu digurui. Cukup diajak berpikir. Selebihnya, kesadaran akan tumbuh dengan sendirinya,” tutup Ali.






