Martapura,matarakyat.co.id — Sikap merasa paling benar dinilai menjadi salah satu pemicu utama konflik dalam kehidupan sosial, baik dalam lingkup kecil maupun masyarakat luas.
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris LDNU Kabupaten Banjar, M. Ali Syahbana, yang menyoroti pentingnya kesadaran diri dalam mengelola ego.
Menurut Ali, kecenderungan tersebut berakar dari pola pikir bawah sadar yang terbentuk sejak dini.
Ia menjelaskan bahwa dorongan untuk selalu benar atau mencari pengakuan dari orang lain sering kali tidak disadari, namun berpengaruh besar terhadap cara seseorang merespons situasi.
“Ini bukan sekadar kesombongan biasa, tetapi lebih dalam, yakni keyakinan yang tertanam sejak lama dan memengaruhi sikap kita sehari-hari,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Ia menambahkan, ketika ego atau keakuan mendominasi, seseorang cenderung menempatkan dirinya sebagai pusat kebenaran.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan bias dalam berpikir, di mana pandangan pribadi dianggap paling tepat, meskipun bersifat subjektif.
Dampaknya, hubungan sosial bisa terganggu hanya karena keinginan mempertahankan pendapat.
Dalam perspektif tasawuf Ahlussunnah wal Jamaah, konsep ini telah lama dibahas oleh ulama klasik, salah satunya Imam Al-Ghazali melalui karyanya Ihya Ulumuddin.
Ia mengaitkan sikap tersebut dengan dua penyakit hati, yakni ujub (rasa kagum berlebihan terhadap diri sendiri) dan takabbur (merendahkan orang lain).
Al-Ghazali menjelaskan bahwa ujub bersifat internal, sementara takabbur tampak dalam perilaku lahiriah.
Keduanya, jika tidak dikendalikan, dapat merusak kualitas hubungan sosial dan spiritual seseorang.
Untuk mengatasi hal tersebut, Ali menyebutkan pentingnya menerapkan sikap husnuzan atau berprasangka baik, serta muhasabah atau introspeksi diri.
Ia menekankan bahwa manusia perlu menyadari keterbatasannya dan menyerahkan penilaian akhir kepada Tuhan.
“Proses penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs menjadi kunci, yakni dengan membersihkan sifat buruk dan menggantinya dengan akhlak yang lebih baik,” jelasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai dari langkah sederhana, seperti mendengarkan pendapat orang lain tanpa terburu-buru menyanggah.
Menurutnya, sikap ini dapat menjadi awal dalam membangun komunikasi yang lebih sehat dan mengurangi konflik.
“Dengan begitu, seseorang tetap bisa percaya diri tanpa harus merendahkan orang lain, serta tegas tanpa terjebak pada kesombongan,” pungkasnya.






