Martapura, matarakyat.co.id – Malam yang semestinya menjadi waktu bagi warga untuk beristirahat berubah menjadi kepanikan.
Kobaran api tiba-tiba membesar dan melalap permukiman warga di Jalan A Yani Kilometer 14.000, Gang Swarga RT 010 RW 003, Kelurahan Gambut Barat, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada Senin (10/8/2026) malam.
Hanya beberapa menit berselang, petugas Sektor Gambut tiba di lokasi pada pukul 22.05 Wita dan langsung berjibaku memadamkan kobaran api.
Api dengan cepat mengancam rumah-rumah warga di kawasan permukiman tersebut. Petugas DPKP Kabupaten Banjar bersama pemadam kebakaran relawan kemudian melakukan penyemprotan dan pendinginan hingga kondisi dinyatakan aman.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Banjar Agus Siswanto, mengatakan respons cepat petugas bersama dukungan relawan menjadi faktor penting dalam mencegah api menjalar lebih luas ke bangunan di sekitar lokasi.
“Begitu laporan kami terima, petugas langsung bergerak menuju lokasi. Sesampainya di sana, pemadaman dan pendinginan segera dilakukan sampai situasi benar-benar dinyatakan aman,” kata Agus.
Dalam penanganan tersebut, DPKP Kabupaten Banjar mengerahkan petugas Sektor Gambut dengan satu unit fire truck, ditambah satu unit suplai 106 serta peralatan pendukung lainnya.
Namun, meski petugas bergerak cepat, kobaran api telah lebih dahulu menghanguskan sejumlah rumah warga.
Berdasarkan pendataan sementara, empat rumah mengalami rusak berat, sementara tiga rumah lainnya mengalami rusak sedang.
Sedikitnya tujuh kepala keluarga dengan total 19 jiwa terdampak langsung akibat musibah tersebut.
Mereka masing-masing adalah Syarifudin, satu KK dua jiwa, rumah rusak berat; Fajri, satu KK tiga jiwa, rusak berat; Suriadi, satu KK tiga jiwa, rusak berat; serta Uwa Jamhari, satu KK tiga jiwa, rusak berat.
Sementara itu, tiga keluarga lainnya mengalami kerusakan sedang, yakni Bu Le dengan satu KK dua jiwa, Adi atau Ahyat dengan satu KK tiga jiwa, dan Husin dengan satu KK tiga jiwa.
“Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut,” bebernya.
Namun, bagi tujuh keluarga yang terdampak, malam itu meninggalkan luka dan kehilangan yang tidak ringan.
Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung, menyimpan kenangan dan menjadi tempat berkumpul bersama keluarga, kini sebagian besar hanya menyisakan puing dan bangunan yang rusak.
Agus mengatakan, keberhasilan mengendalikan api tidak terlepas dari kesiapsiagaan petugas di lapangan serta dukungan para pemadam kebakaran relawan.
“Kami bersyukur tidak ada korban jiwa maupun korban luka. Kerja sama antara petugas DPKP dan para relawan juga sangat membantu sehingga api dapat segera dikendalikan dan tidak meluas ke bangunan lainnya,” ujarnya.
Proses pemadaman, pendinginan, hingga penanganan di lokasi berlangsung hingga sekitar pukul 00.36 Wita.
Petugas kemudian melakukan pendataan terhadap rumah yang terdampak dan kondisi warga. Sementara itu, jumlah kerugian materi akibat kebakaran masih dalam tahap penyelidikan pihak berwajib.
Bagi warga terdampak, malam panjang itu bukan sekadar peristiwa kebakaran. Dalam hitungan waktu, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa tempat tinggal mereka rusak dan tidak lagi dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Di tengah kepulan asap dan sisa-sisa bangunan yang terbakar, tujuh keluarga kini harus menata kembali kehidupan mereka setelah kehilangan tempat tinggal akibat amukan si jago merah.






