Batulicin, matarakyat.co.id — Di tengah sengatan kemarau Batulicin, ada dua hal kecil yang membuat hari di Lapas Kelas III Batulicin tetap berjalan tenang: seteguk air jernih dan sekeping es kristal yang mencair pelan di dalam gelas, pada Rabu (02/09/2026) siang.
Bukan kemewahan, tapi kebutuhan.
Dan di sinilah kebutuhan itu dirawat dengan tertib.
Setiap pagi, petugas membagikan dua galon air isi ulang gratis untuk tiap kamar hunian. Dua galon yang turun dari rak, berpindah tangan, lalu menjadi penawar dahaga 24 jam ke depan. Rutin. Merata. Tanpa perlu meminta.
Di sudut lain, mesin es kristal bekerja. Butiran-butiran bening itu dijual dengan harga terjangkau. Bukan untuk mencari untung, tapi agar ketika matahari naik terlalu tinggi dan tenggorokan mulai kering, masih ada dingin yang bisa dibeli.
Di balik layanan sederhana ini, ada pelajaran yang lebih besar: kemandirian.
Warga Binaan dilibatkan dalam pengelolaan.
Mereka belajar mengisi, mencatat, mendistribusikan. Belajar bahwa tanggung jawab sekecil menjaga air tetap bersih dan es tetap tersedia, adalah bagian dari membangun karakter.
Harry Indrawan, Kepala Subseksi Pembinaan, menjelaskan maksudnya pelan-pelan.
“Air isi ulang menjadi kebutuhan dasar yang harus tersedia secara rutin, sehingga setiap kamar hunian mendapatkan dua galon secara gratis setiap hari. Sementara es kristal disediakan dengan harga terjangkau agar Warga Binaan tetap dapat memenuhi kebutuhan tersebut, khususnya ketika cuaca panas selama musim kemarau,” ujarnya.
Bagi P, salah satu Warga Binaan, layanan ini adalah penolong di hari-hari terik.
“Kami sangat terbantu karena setiap kamar mendapatkan dua galon air secara gratis setiap hari. Es kristal juga cukup membantu saat cuaca panas, apalagi musim kemarau seperti sekarang, dan harganya juga terjangkau bagi kami,” ungkapnya.
Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, menegaskan air dan es bukan sekadar fasilitas.
“Kami berkomitmen memastikan kebutuhan dasar Warga Binaan dapat terpenuhi dengan baik dan merata. Penyediaan air isi ulang secara gratis serta es kristal dengan harga terjangkau merupakan bentuk pelayanan yang kami hadirkan untuk memberikan kenyamanan sekaligus mendukung pelaksanaan pembinaan selama mereka berada di Lapas,” tegasnya.
Dua galon, segelas es, terdengar sederhana. Tapi di tempat ini, dari hal-hal kecil itulah kenyamanan dibangun.
Dari keteraturan itulah pembinaan tumbuh.
Karena membina manusia, kadang dimulai dari memastikan ia tidak haus.






