Batulicin,matarakyat.co.id — Matahari Batulicin belum terlalu tinggi ketika air di kolam pembinaan Lapas Kelas III Batulicin mulai beriak. Jaring serok turun naik, dan dari kedalaman air muncul kilau tubuh lele yang licin, gelap, dan penuh tenaga, pada Selasa (01/09/2026) pagi.
Sebanyak 51 kilogram lele berhasil dituai. Bukan sekadar angka di timbangan, tapi buah dari 2,5 bulan kesabaran yang ditanam di air.
Di sinilah, di balik pagar, pembinaan menemukan bentuknya yang paling nyata: bukan ceramah, tapi lumpur di kaki. Bukan teori, tapi pakan yang ditebar tiga kali sehari. Bukan janji, tapi kolam yang dijaga kualitas airnya agar napas ikan tetap panjang.
Warga Binaan yang menggulung lengan dan turun ke kolam terpal itu belajar lebih dari sekadar membudidaya. Mereka belajar menunggu. Belajar merawat tanpa pamrih. Belajar bahwa sesuatu yang kecil, jika diberi waktu dan tanggung jawab, akan tumbuh menjadi hasil.
Hasil panen itu tak disimpan. Ia dijual. Dan dari penjualan itu lahir lagi siklus baru: untuk membeli pakan, untuk merawat peralatan, untuk memastikan kolam berikutnya tetap hidup. Di sinilah kemandirian dipraktikkan, bukan dihafal.
Muhammad Subhan Abdi, petugas Lapas Batulicin, memandangi hasil kerja itu dengan tenang.
“Panen lele ini menunjukkan bahwa pembinaan kemandirian dapat berjalan melalui proses yang terarah dan konsisten. Warga Binaan tidak hanya belajar memelihara ikan, tetapi juga memahami bahwa keberhasilan budidaya membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, dan tanggung jawab dari awal hingga panen,” ujarnya.
Salah satu Warga Binaan, berinisial M, menggenggam seekor lele di tangannya. Air masih menetes dari kumis panjang si ikan.
“Selama ikut mengelola lele, saya mendapatkan banyak pengalaman tentang cara merawat dan menjaga ikan sampai bisa dipanen. Kalau nanti sudah bebas, saya punya niat untuk mengembangkan bidang perikanan ini menjadi usaha karena ilmu yang saya dapat di sini bisa menjadi bekal,” katanya pelan, namun pasti.
Di ujung lapangan, Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, berdiri menyaksikan. Baginya, kolam ini bukan sekadar tempat budidaya.
“Kami mendukung setiap langkah pembinaan kemandirian yang memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk belajar, bekerja, dan menghasilkan. Kami berharap tanggung jawab yang dibangun melalui kegiatan seperti budidaya lele dapat menjadi bekal positif sekaligus memberikan energi yang baik bagi keberlangsungan program pembinaan di Lapas Batulicin,” tegasnya.
51 kilogram, mungkin tak seberapa bagi pasar. Tapi bagi mereka yang menebar benih dengan tangan sendiri, memberinya makan dalam hujan dan panas, dan akhirnya menuainya, itu adalah bukti.
Bukti bahwa dari air keruh bisa lahir rezeki. Bukti bahwa dari keterbatasan bisa tumbuh kemandirian.
Bukti bahwa setiap kolam, jika dirawat, akan mengajari kita cara menuai harapan.






