Martapura,matarakyat.co.id – Fenomena wisata dadakan muncul di Desa Awang Bangkal Barat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Hamparan pasir yang muncul akibat menyusutnya debit sungai saat kemarau membuat lokasi tersebut terlihat seperti pantai dan menarik banyak warga untuk datang.
Selain menjadi tempat rekreasi gratis, kemunculan wisata dadakan itu juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. Sejumlah warga memanfaatkan keramaian dengan berjualan di sekitar lokasi.
Sekretaris Desa Awang Bangkal Barat, Sayuti Atmajaya, mengatakan fenomena tersebut memiliki dampak positif bagi masyarakat karena dapat menjadi sarana hiburan sekaligus memberikan tambahan penghasilan bagi warga.
“Positifnya di sini semua serba gratis. Masyarakat bisa menganggapnya sebagai hiburan. Ada juga masyarakat yang berdagang dan lain-lain, ada penghasilan,” ujar Sayuti, Selasa (8/9/2026).
Namun, di balik ramainya pengunjung, pemerintah desa belum berani menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata resmi.
Sayuti mengatakan, faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama. Meski terlihat seperti hamparan pantai ketika musim kemarau, sejumlah bagian sungai masih memiliki kedalaman yang berisiko bagi pengunjung.
“Kita belum berani mengelola karena risikonya cukup lumayan. Airnya ini sangat dalam, ibaratnya berisiko untuk adanya orang tenggelam,” katanya.
Menurut Sayuti, selama fenomena wisata dadakan itu muncul, sudah hampir empat kali terjadi kejadian pengunjung nyaris tenggelam. Meski demikian, hingga saat ini belum ada korban yang benar-benar tenggelam.
“Wisata dadakan sudah hampir empat kali terjadi hampir tenggelam. Empat kali kejadian, alhamdulillah belum kejadian tenggelam,” ujar Sayuti.
Pengunjung meningkat
Fenomena tersebut kini memasuki tahun kedua. Sayuti menyebut jumlah pengunjung tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada tahun pertama, kata dia, kawasan tersebut sudah cukup ramai meski debit air sungai masih tersisa.
Sementara tahun ini, kondisi sungai yang lebih kering membuat hamparan pasir terlihat semakin luas sehingga menarik lebih banyak pengunjung.
“Tahun kedua ini lebih ramai lagi orangnya. Kalau dilihat dari tahun kemarin, kenaikannya mungkin hampir 100 persen,” kata Sayuti.
Sungai akan dinormalisasi
Untuk mengurangi risiko keselamatan sekaligus mengembalikan fungsi sungai, pemerintah desa berencana melakukan normalisasi.
Sayuti mengatakan pemerintah desa telah berkoordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan pengusaha yang berada di wilayah Desa Awang Bangkal Barat.
Normalisasi dilakukan dengan mengeruk sedimen yang menyebabkan sungai menjadi dangkal. Material hasil pengerukan nantinya tidak akan dibuang begitu saja, tetapi dimanfaatkan untuk kebutuhan pembangunan di desa.
“Sedimen ini akan kita angkut ke sana untuk peninggian lahan. Ada dua proyek, satu kantor KDMP dan satu bangunan PAUD yang mendapat bantuan dari pemerintah pusat,” jelasnya.
Pelaksanaan normalisasi direncanakan dimulai Rabu dan diperkirakan berlangsung sekitar dua pekan.
Setelah normalisasi selesai, pemerintah desa berharap fungsi sungai kembali seperti semula.
Dengan demikian, kawasan yang selama musim kemarau berubah menjadi “pantai dadakan” tidak lagi menjadi lokasi kerumunan yang berpotensi membahayakan keselamatan pengunjung.






