Batulicin, matarakyat.co.id – Ketika sebagian besar pemuda berbondong-bondong meninggalkan desa demi gemerlap kota, Alfian justru melangkah ke arah sebaliknya.
Ia memilih pulang. Bukan ke rumah megah atau kenyamanan kota, melainkan ke tanah yang dulu membesarkannya hamparan lahan subur di Desa Manunggal, Kecamatan Karang Bintang.
Alfian bukan petani biasa. Ia adalah jurnalis aktif di Kabupaten Tanah Bumbu, terbiasa mengejar berita, menembus panas dan hujan demi sebuah fakta.
Namun kini, di sela kesibukan memburu deadline, ia mengenakan sepatu bot, menunduk pada tanah, dan membiarkan tangannya kotor oleh lumpur.
Baginya, kembali ke kebun bukanlah pelarian.
Ini adalah perjalanan pulang ke titik nol sebuah misi personal untuk membuktikan bahwa tanah kelahiran tak pernah kehilangan janji, selama dirawat dengan kesungguhan dan cinta.
Bahu-membahu bersama kelompok tani setempat, Alfian mengelola lahan seluas lima hektare yang kini menghijau oleh tanaman semangka.
Di tengah terik matahari, ia menemukan irama baru dalam hidupnya: menanam, merawat, dan menunggu dengan sabar.
Di tanah Desa Manunggal, Alfian melihat potensi besar yang selama ini luput dari pandangan banyak anak muda.
Kolaborasi antara naluri kritis seorang jurnalis dan kearifan para petani lapangan pun terjalin sebuah sinergi yang pelan tapi pasti melahirkan harapan.
Kini, harapan itu mulai tampak nyata. Di balik rimbun dedaunan, buah-buah semangka bulat besar bersembunyi, menggoda mata, seolah menunggu saatnya dipetik.
Sesuai rencana, kebun semangka ini akan memasuki masa panen raya pada Sabtu dan Minggu, 7–8 Februari 2026.
Momen yang ditunggu bukan hanya oleh para petani, tetapi juga warga sekitar.
Namun bagi Alfian, panen bukanlah akhir cerita.
Ia menyimpan mimpi yang lebih besar: menjadikan Desa Manunggal sebagai destinasi wisata agraris yang hidup dan berdaya tarik.
Lewat konsep Wisata Petik Buah, ia mengundang siapa pun untuk datang langsung ke kebun, memetik semangka dari tangkainya sendiri, dan menikmatinya sepuasnya secara gratis di lokasi.
Ia ingin orang-orang datang, merasakan kesuburan desa, dan membawa pulang cerita.
Bagi pengunjung yang ingin membawa semangka ke rumah, Alfian mematok harga yang ramah di kantong—Rp7.500 per kilogram untuk semangka segar berkualitas premium.
Variasinya pun lengkap: semangka kuning berbiji yang manis, semangka merah berbiji, hingga semangka merah tanpa biji yang praktis disantap.
Di balik semua itu, ada kegelisahan yang mendorong langkah Alfian.
Ia prihatin melihat generasi muda yang kian menjauh dari tanah, seolah bertani adalah sesuatu yang memalukan.
Padahal, menurutnya, bertani adalah profesi mulia fondasi ketahanan bangsa.
“Dengan berkebun semangka, kita tidak hanya menanam buah. Kita sedang menanam harapan untuk masa depan yang lebih baik. Ketahanan pangan dimulai dari desa kita sendiri,” ujar Alfian, suaranya mantap.
Perjalanan ini belum selesai. Di lahan yang sama, Alfian dan kelompok tani telah menanam melon yang diprediksi akan panen bertepatan dengan awal Ramadan.
Sebuah kejutan manis yang telah mereka siapkan dengan penuh keyakinan.
Visi Alfian sederhana namun kuat: menjadikan pertanian sebagai gaya hidup yang membanggakan bagi anak muda Tanah Bumbu.
Ia berharap langkah kecilnya bisa menjadi pemantik, agar lebih banyak pemuda berani kembali menoleh ke desa mereka sendiri.
Ia juga berharap pemerintah daerah melihat gerakan ini sebagai potensi ekonomi kreatif berbasis desa sebab apa yang dilakukan Alfian bukan sekadar bertani, melainkan wujud cinta seorang putra daerah pada tanah kelahirannya.
Akhir pekan ini, bagi siapa pun yang ingin merasakan sensasi memetik semangka langsung dari kebunnya, Desa Manunggal telah menunggu.
Bukan hanya dengan buah segar, tetapi dengan kisah tentang keberanian untuk pulang dan menumbuhkan harapan dari tanah sendiri. 🌱🍉






