Martapura, matarakyat.co.id — Curah hujan tinggi yang disertai banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Banjar berdampak pada meningkatnya jumlah pasien yang berobat ke RSUD Raza Martapura.
Dalam dua pekan terakhir, lonjakan kunjungan paling terasa di Instalasi Gawat Darurat (IGD), terutama menjelang dan saat pelaksanaan Momen 5 Rajab atau Haul Guru Sekumpul.
Direktur RSUD Raza Martapura, Arief Rachman, menyampaikan bahwa tingkat hunian tempat tidur di IGD nyaris tidak pernah kosong.
Ia menggambarkan, begitu satu bed kosong, tidak berselang lama langsung terisi kembali oleh pasien lain.
“Kalau kita amati di IGD, dalam dua minggu ini memang terjadi peningkatan jumlah pasien. Bed hampir tidak pernah kosong, kosong sebentar lalu langsung terisi lagi,” ujar Arief, belum lama tadi
Menurut Arief, arus kedatangan pasien semakin padat saat puncak kegiatan haul.
Kondisi tersebut membuat aktivitas pelayanan gawat darurat meningkat signifikan dibanding hari-hari biasa.
“Apalagi kemarin saat haul, itu luar biasa pasien yang datang,” tambahnya.
Secara umum, Arief menjelaskan bahwa jenis penyakit yang ditangani di IGD tidak jauh berbeda dengan hari normal. Namun, dari sisi jumlah, terjadi peningkatan yang cukup mencolok.
Pasien didominasi oleh kasus hipertensi, gangguan pencernaan, demam (febris), serta penyakit degeneratif seperti stroke.
Ia menegaskan, perubahan cuaca dan bencana banjir lebih berdampak pada peningkatan volume pasien, bukan pada pergeseran pola penyakit.
“Secara pola penyakit sebenarnya hampir sama, baik musim hujan maupun musim biasa. Tapi dari jumlah pasien memang terjadi peningkatan,” jelasnya.
Terkait pasien yang dievakuasi oleh petugas pemadam kebakaran (Damkar) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Arief menyebut belum semua kasus bisa dikaitkan langsung dengan dampak banjir.
Sebagian besar pasien yang dievakuasi merupakan penderita penyakit degeneratif.
“Sebagian besar pasien yang dievakuasi itu pasien degeneratif. Apakah itu karena dampak banjir atau memang sebelumnya sudah sakit dan terkendala akses menuju rumah sakit, itu masih perlu dianalisis lebih dalam,” katanya.
Berdasarkan laporan tim epidemiologi dan surveilans rumah sakit, terdapat indikasi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan demam. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan musim hujan serta lingkungan yang kurang sehat pascabanjir.
“Kalau dikaitkan dengan musim hujan dan efek banjir, mungkin memang ada kaitannya, terutama untuk ISPA dan febris,” ujar Arief.
Sementara itu, untuk gangguan pencernaan, pihak rumah sakit menduga faktor pemicunya berasal dari kelelahan, pola makan yang tidak teratur, serta kebersihan yang kurang terjaga di wilayah terdampak banjir.
“Mungkin karena kurang istirahat, pola makan tidak terkontrol, dan kebersihan tangan yang kurang terjaga,” jelasnya.
Meski tekanan pelayanan di IGD cukup tinggi, Arief memastikan kondisi rumah sakit masih terkendali. Ketersediaan ruang rawat inap dinilai aman berkat adanya perputaran pasien yang keluar dan masuk.
“Alhamdulillah, ruangan rawat inap masih aman. Ada pergeseran pasien, ada yang pulang lalu diisi lagi. Tidak sampai stuck,” tegasnya.
Saat ini, manajemen RSUD Raza Martapura terus melakukan pemantauan dan penelusuran data pasien, termasuk alamat tempat tinggal, untuk memastikan sejauh mana lonjakan kasus berkaitan langsung dengan dampak banjir.
“Untuk memastikan itu, memang perlu penelusuran lebih dalam lagi,” pungkas Arief.






