Martapura, matarakyat.co.id – Dalam pandangan Islam, keberadaan manusia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berpikir, tetapi juga oleh kedalaman jiwa.
Antara akal dan hati seharusnya terjalin harmoni yang memandu langkah hidup. Sebagaimana pesan bijak Imam Yahya bin Muadz Al-Razi:
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Pemahaman terhadap diri sendiri menjadi jalan pembuka menuju penyatuan antara nalar dan nurani—dua unsur penting yang menuntun seorang hamba menuju kehidupan yang bermakna.
Kita kini berada di era yang sarat dengan kemajuan teknologi, banjir informasi, dan dinamika sosial yang semakin kompleks.
Dalam kondisi semacam ini, berpikir semata tidak lagi cukup. Diperlukan kekuatan batin yang menenangkan dan memberi arah agar manusia tidak tersesat dalam hiruk pikuk zaman.
Psikologi modern pun mengakui pentingnya kesadaran diri serta keseimbangan mental—nilai yang sejak lama telah diajarkan oleh Islam melalui konsep keseimbangan antara spiritualitas dan rasionalitas.
Berpikir dan berjiwa dalam perspektif Islam bukanlah aktivitas yang terpisah, melainkan cara hidup yang menyatukan iman, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Di tengah cepatnya perubahan dunia, termasuk bagi masyarakat Banjar dan Nahdliyin, perpaduan akal dan hati menjadi landasan kokoh untuk menghadapi tantangan masa kini.
Akal yang tercerahkan oleh ilmu pengetahuan dan jiwa yang dipandu oleh keimanan harus berjalan seiring.
Keduanya membentuk keselarasan yang tidak hanya menjaga kesehatan lahir dan batin, tetapi juga melahirkan manusia yang mampu memberi manfaat bagi sesama.
Di tepian zaman modern ini, sudah saatnya kita menjadikan keseimbangan antara berpikir dan berjiwa sebagai pedoman hidup.
Dengan menyatukan nalar dan nurani, manusia dapat menapaki kehidupan dengan arah yang lebih jelas, bermakna, dan penuh keberkahan.
M. Ali Syahbana Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Banjar






