Menurut Ali Syahbana, “Tamat Sembahyang” Adalah Alarm Lemahnya Jalur Ilmu

- Jurnalis

Kamis, 3 Juli 2025 - 20:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Martapura, matarakyat.co.id – Munculnya ajaran “tamat sembahyang” di salah satu desa di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, yang diduga membolehkan umat Islam meninggalkan salat karena telah mencapai tingkat spiritual tertentu, menuai kecaman luas dari masyarakat dan tokoh agama.

Meski begitu, sebagian kalangan muda menilai bahwa fenomena ini tidak cukup hanya direspons dengan kecaman, melainkan perlu dikaji mendalam sebagai bagian dari krisis sosial-keagamaan yang lebih luas.

Salah satunya datang dari M. Ali Syahbana, pemuda asal Kabupaten Banjar yang dikenal aktif sebagai pengamat sosial-keagamaan, hukum, dan isu-isu kebudayaan.

Menurutnya, ajaran menyimpang semacam itu adalah ekspresi dari kekosongan arah yang sistematis dan berkelanjutan.

“Fenomena ini adalah isyarat bahwa masyarakat kita sedang mengalami disorientasi pemahaman. Ketika jalur keilmuan yang bersanad terputus, dan akses terhadap guru agama yang mumpuni melemah, maka muncul ruang bagi tafsir liar seperti ini,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (3/7/2025)

Bukan Sekadar Salah, Tapi Ada yang Tersesat

Baca Juga :  Pemkab Banjar Perkuat Langkah Percepatan Penanggulangan TBC

Ali menegaskan, ajaran yang membolehkan meninggalkan salat jelas bertentangan dengan prinsip dasar Islam.

Namun ia mengajak publik untuk tidak berhenti pada penolakan, tetapi mendorong pendekatan yang lebih bijak, edukatif, dan membina.

“Kita bisa keras terhadap ajaran, tapi tetap lembut terhadap pelakunya. Mereka yang terjebak dalam ajaran semacam ini sering kali bukan karena niat buruk, tapi karena kebingungan dan kehilangan arah,” katanya.

Menurut Ali, menyelamatkan mereka dari penyimpangan adalah tugas bersama, terutama bagi kalangan yang telah lebih dahulu memahami jalan ilmu yang benar.

Saatnya Perkuat Kembali Jalur Ilmu dan Dakwah Ia mendorong agar momen ini menjadi refleksi kolektif.

Ali menyebut perlunya penguatan halakah keilmuan, pendampingan masyarakat secara langsung oleh tokoh agama, dan pembinaan generasi muda agar mampu menjadi penjaga akidah dan akhlak.

“Jika kita hanya hadir saat kegaduhan muncul, penyimpangan akan terus berulang. Kita perlu hadir sebelum itu terjadi — melalui pendidikan, pembinaan, dan keteladanan,” ajaknya.

Baca Juga :  Satlantas Banjarbaru Gelar “Police Goes To School” di SMKN 2, Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas untuk Pelajar

Ali juga menekankan, pendekatan hukum penting sebagai pengingat batas, namun pendekatan dakwah dan kasih sayang jauh lebih berdampak dalam jangka panjang.

Fenomena Liar, Cerminan Krisis Ilmu

Ia mengajak publik untuk tidak sekadar menjadikan kasus ini sebagai bahan sensasi atau alat pembenaran semata, melainkan sebagai titik tolak membenahi fondasi sosial-keagamaan di masyarakat.

“Fenomena seperti ini adalah tafsir dari krisis sosial. Ini bukan soal satu orang, tapi tentang sistem yang membiarkan ajaran tak bersanad tumbuh tanpa pengawasan,” pungkas Ketua Yayasan Ponpes Syafaat Bukhari Muslim ini.

Untuk diketahui, Ali aktif menulis refleksi tentang keagamaan, sosial, hukum, dan kebudayaan di berbagai media lokal dan nasional.

Selain itu, ia dikenal sebagai pemuda dengan ketertarikan multidisipliner yang menaruh perhatian pada isu-isu hak asasi manusia, pemikiran keislaman moderat, serta dinamika kebudayaan masyarakat Banjar dan Kalimantan Selatan secara luas.

Berita Terkait

APDESI Merah Putih Kawal Program Strategis Nasional, Desa Didorong Jadi Pusat Ekonomi
Kisah Alfian, Jurnalis Tanbu yang “Mudik” ke Kebun Semangka
Konsep “Kelana Rasa: Journey to the Middle East” Hadirkan Nuansa Timur Tengah dan Promo Spesial Ramadan
58 Pengurus DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Banjarbaru Resmi Dilantik, Fokus Ketahanan Pangan dan Hilirisasi
Kontraktor Diduga Kabur, Proyek RS Tipe D Gambut Mandek, Dinkes Banjar Bungkam 
BPK Serahkan LHP Semester II 2025, Tambang Ilegal hingga Risiko Kredit Bank Kalsel Jadi Sorotan
Kadisbudporapar Banjar Diperiksa Tipidkor Terkait Proyek Lapangan Tenis Al Basia
Grub Racun Rayakan Anniversary ke-6 dengan Lomba Mancing Nila di Banjarbaru

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 21:09 WITA

APDESI Merah Putih Kawal Program Strategis Nasional, Desa Didorong Jadi Pusat Ekonomi

Kamis, 5 Februari 2026 - 07:26 WITA

Kisah Alfian, Jurnalis Tanbu yang “Mudik” ke Kebun Semangka

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:24 WITA

Konsep “Kelana Rasa: Journey to the Middle East” Hadirkan Nuansa Timur Tengah dan Promo Spesial Ramadan

Minggu, 1 Februari 2026 - 12:59 WITA

58 Pengurus DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Banjarbaru Resmi Dilantik, Fokus Ketahanan Pangan dan Hilirisasi

Kamis, 29 Januari 2026 - 12:15 WITA

Kontraktor Diduga Kabur, Proyek RS Tipe D Gambut Mandek, Dinkes Banjar Bungkam 

Kamis, 29 Januari 2026 - 07:50 WITA

BPK Serahkan LHP Semester II 2025, Tambang Ilegal hingga Risiko Kredit Bank Kalsel Jadi Sorotan

Senin, 26 Januari 2026 - 19:32 WITA

Kadisbudporapar Banjar Diperiksa Tipidkor Terkait Proyek Lapangan Tenis Al Basia

Minggu, 25 Januari 2026 - 19:06 WITA

Grub Racun Rayakan Anniversary ke-6 dengan Lomba Mancing Nila di Banjarbaru

Berita Terbaru