Batulicin,matarakyat.co.id – Angin laut berbisik di antara akar-akar yang baru saja dibenamkan ke tanah basah Muara Pagatan, pada Minggu (14/4/2026).
Di sana, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu menanam bukan sekadar 6.600 batang mangrove, melainkan harapan yang berakar dalam dua hektare pesisir Kusan Hilir. Aksi ini menjadi persembahan sunyi bagi Hari Jadi Tanah Bumbu yang ke-23.
Bupati Tanah Bumbu, Andi Rudi Latif, meresmikan penanaman itu bersama Sekretaris Direktorat Jenderal PDASRH Kementerian Kehutanan RI, Dr. Muhammad Zainal Arifin. Di bawah langit yang menggantung rendah, mangrove muda berdiri tegak seperti penjaga gerbang, siap menahan amuk abrasi dan memeluk biota laut yang pulang.
“Ini ikhtiar kolektif kita,” ucap Andi Rudi Latif, suaranya larut dalam desir ombak. Baginya, mangrove bukan hanya tameng pesisir, melainkan nadi ekonomi warga.
“Dari akar hingga buah, semua memberi hidup. Kulitnya mewarnai kain, buahnya menjelma sirup, bijinya diseduh menjadi kopi yang dirindukan.” Jelasnya.
Dr. Muhammad Zainal Arifin menuturkan, Rhizophora dan Avicennia yang ditanam hari itu adalah paru-paru senyap.
“Ekosistem mangrove menyerap karbon lima kali lebih rakus, menyimpan karbon dua puluh kali lebih lama dibanding hutan darat,” jelasnya, seolah mengingatkan bahwa setiap helai daun adalah doa bagi bumi.
Data Kementerian Kehutanan mencatat Tanah Bumbu masih menyimpan 5.200 hektare mangrove eksisting, dengan 5.900 hektare lain menanti untuk dipulihkan. Aksi ini pun menjadi sebaris bait dalam puisi panjang Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.
Hadir di tepian itu TNI, Polri, jajaran pemerintah, swasta, dan kelompok tani rehabilitasi mangrove, mereka yang tangannya legam oleh lumpur namun hatinya terang oleh tujuan. Sebab di Muara Pagatan, ulang tahun dirayakan dengan menanam masa depan.






