Batulicin,matarakyat.co.id – Di ruang duka yang masih basah oleh tangis, empat keluarga korban kecelakaan maut Jalan Alternatif Banjarbaru–Batulicin menerima dua hal hari ini: santunan dari negara, dan pelukan empati dari sesama, pada Rabu (05/08/2026) pagi.
Kepala Kantor Wilayah PT Jasa Raharja Kalimantan Selatan, Ahmad Arkan Nugraha, menyerahkan santunan secara langsung. Bersamaan, Kapolres Tanah Bumbu AKBP Novy Adi Wibowo mengulurkan bantuan sosial. Dua tangan berbeda, satu niat yang sama: meringankan beban mereka yang ditinggalkan.

Keempat ahli waris itu datang membawa nama-nama yang tak akan pernah pulang.
Ada orang tua Tegar Mangku Alamsyah, Ketua Karang Taruna Desa Batulicin Irigasi, pemuda yang biasa menyalakan semangat di desanya.
Ada orang tua Nuraini Salsabila, mahasiswi KKN UNU KASE, gadis yang berangkat mengabdi dan pulang dalam diam.

Ada orang tua Veri Andi Saputra, juga mahasiswa KKN UNU KASE, anak muda yang percaya kampus bukan hanya di kelas.
Dan ada keluarga M Ilyas, sopir tangki BBM, lelaki roda yang sehari-harinya menaklukkan jalan demi menghidupi orang rumah.
AKBP Novy Adi Wibowo berdiri di tengah mereka. Suaranya berat, tapi pasti.
“Kami turut berbelasungkawa atas musibah ini. Semoga kita semua diberikan ketabahan,” ucapnya, memecah hening.
Ia lalu menyampaikan pesan Kapolda: pintu kepolisian terbuka.
“Pesan Bapak Kapolda, apabila ada sesuatu atau permasalahan yang berkaitan dengan para korban, silakan disampaikan. Kami siap membantu dan menindaklanjutinya sesuai kewenangan yang ada.”
Santunan Rp50 juta dari Jasa Raharja diberikan sebagai bentuk perlindungan dasar bagi korban kecelakaan lalu lintas. Sementara bantuan sosial dari Polres Tanah Bumbu hadir sebagai penopang kecil agar keluarga yang ditinggal tidak berjalan sendirian dalam duka.
Ingatan kembali ke Sabtu, 1 Agustus 2026. Di jalan yang sama, sebuah tangki BBM bertabrakan dengan pikap yang mengangkut rombongan mahasiswa KKN. Tujuh nyawa padam seketika. Satu lagi masih berjuang menahan luka.
Hari ini tak ada kata yang cukup. Hanya ada santunan, bantuan, dan janji bahwa nama-nama Tegar, Nuraini, Veri, dan Ilyas tidak akan hilang ditelan aspal.
Karena di negeri ini, ketika maut merenggut, masih ada manusia yang datang membawa obor empati.






