Papua,matarakyat.co.id – Ada tempat yang sering dipandang orang dari kejauhan dengan rasa takut. Temboknya tinggi, pintunya berlapis, suasananya sunyi. Orang menyebutnya Lembaga Pemasyarakatan.
Padahal, Lapas, sebagai Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, bukanlah tempat untuk membuang manusia. Ia adalah rumah kedua, tempat narapidana dan anak didik pemasyarakatan dibina, dirawat, dan dipersiapkan, agar suatu hari nanti mereka bisa kembali berjalan di tengah masyarakat, dengan kepala tegak, tanpa rasa malu.
Dan hari itu, di Kabupaten Keerom, Papua, rumah itu terasa hangat.
Keerom adalah sebuah kabupaten di Provinsi Papua, yang terletak di ujung timur Indonesia, dan berbatasan langsung dengan Papua New Guinea. Jauh. Di perbatasan. Di tempat di mana Indonesia berakhir, dan negeri lain bermula.
Namun justru di tempat yang jauh itulah, pesan yang paling hangat itu lahir.
Yosef Benyamin Yembise, Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Madya dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Papua, datang bukan dengan jarak seorang pejabat. Setelah menghadiri undangan dari GKI Klasis Keerom di Kabupaten Keerom, ia datang untuk bersilaturahmi ke tiga UPT Pemasyarakatan: Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP), dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Keerom.
Ia datang bersama tim, didampingi Kepala LPKA Keerom, Sarlota Haay, dan Kepala Bapas Keerom, Irianto Pakombong, bersama jajaran pegawai LPKA, LPP, dan Bapas.
Bagi Warga Binaan, sosok Yosef bukanlah orang asing. Ia sudah lama dikenal sangat akrab dengan mereka.
Sebelumnya, ia pernah menjadi Kepala Lapas Kelas II Kotabaru, dan menjadi Kalapas Perintis di Lapas Kelas III Batulicin. Di mana pun ia bertugas, ia selalu dikenang. Gayanya yang humoris membuat suasana cair, ketegasannya membuat pembinaan berjalan, dan kewibawaannya membuat ia dihormati. Karena itulah, ia sangat disayangi oleh Warga Binaan, di mana pun ia berada.
Maka tak heran, yang terjadi di dalam, jauh lebih indah dari sekadar silaturahmi.
Ia duduk, ia bertanya, ia mendengarkan.
Dialog itu mengalir pelan. Warga Binaan menyampaikan isi hatinya. Para pegawai menyampaikan keluh dan harapnya. Tentang pembinaan, tentang pelayanan, tentang tugas-tugas yang dijalani setiap hari di UPT Pemasyarakatan Keerom. Semua didengar dengan hati yang terbuka.
Lalu, Yosef melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Senyum itu. Tawa itu.
Wajah-wajah Warga Binaan, para narapidana dan anak binaan, yang bersinar saat menerima kunjungan itu. Bukan senyum yang dibuat-buat. Senyum yang lahir dari hati yang merasa dihargai. Tawa yang lahir dari rasa bahagia, karena hari itu, mereka tidak merasa sendiri. Mereka merasa, yang datang hari itu bukan sekadar pejabat, melainkan orang tua mereka sendiri yang pulang menjenguk.
Pertemuan di dua UPT itu pun berakhir dengan cara yang tak akan mudah dilupakan.
Mereka menyanyi bersama. Satu suara, menjadi banyak suara. Suara yang lama tertahan di dada, hari itu dilepaskan bersama. Dan di ujung nyanyian itu, mereka berteriak bersama, lantang, penuh syukur:
*”Jangan Lupa Bahagia!”*
Kalimat itu menggema. Bukan sekadar yel-yel. Itu adalah janji. Janji untuk tetap bahagia, meski hidup sedang diuji.
Di antara kerumunan itu, ada Yeni. Bukan nama sebenarnya, nama samaran. Dengan suara bergetar, ia mengucapkan syukur dan terima kasih kepada PK Madya Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Papua. Terima kasih, karena telah menyempatkan waktu, telah datang, telah menyapa mereka, di LPP dan di LPKA.
Yeni hanya punya satu harapan, dan harapan itu ia ucapkan dengan sungguh-sungguh:
Agar kunjungan seperti ini terus ada. Terus datang. Terus berulang.
Karena bagi Warga Binaan, kunjungan itu adalah semangat yang kembali menyala. Dan bagi para pegawai, kunjungan itu adalah motivasi untuk terus membina dengan cinta kasih.
Sebab, di Keerom hari itu, semua belajar satu hal yang sama:
Bahwa manusia, seberat apa pun masa lalunya, tetap layak untuk disapa, didengar, dan dibahagiakan. Bahkan di ujung timur Indonesia sekalipun, bahkan di perbatasan sekalipun, bahagia itu tetap bisa tumbuh.
Jangan lupa bahagia. Karena bahagia, adalah awal dari pulang.






