Batulicin,matarakyat.co.id – Hutan tak pernah ramah pada yang diburu. Tapi ia juga tak pernah takluk tanpa perlawanan. Ia jadi labirin bagi tiga orang pelaku pengeroyokan dan pembunuhan berencana yang lihai dan licin. Menghilang bagai asap di balik pepohonan.
Mereka berpindah-pindah. Hari ini di satu lembah, besok di seberang sungai. Mengira belantara akan menjadi saksi bisu dan pelindung abadi.
Mereka salah, karena di ujung jejak itu ada Brigadir Polisi Muhamad Andrie, salah satu Anak Rimba dari Tim Resmob Satuan Reserse Kriminal Polres Tanah Bumbu.
Di bawah terik HUT Bhayangkara ke-80, Andrie berdiri di barisan depan. Bukan dengan senapan, tapi dengan Piagam Penghargaan di tangannya. Sebuah pengakuan atas perburuan yang menghabiskan tenaga, waktu, dan batas antara nyawa dengan tugas.
Ia dan timnya membaca daun yang terinjak. Mengikuti aliran air yang keruh. Tidur beralaskan tanah, makan seadanya, hanya demi menyeret tiga bayang itu keluar dari persembunyiannya.
Tidak ada sorak di hutan saat mereka ditangkap. Hanya hening. Hening yang akhirnya berpihak pada keadilan.
Hari itu, Kapolres Tanah Bumbu, AKBP ARIEF PRASETYA,S.I.K menyerahkan penghargaan. Bukan hanya untuk Andrie, tapi untuk semua keringat yang jatuh di antara akar dan lumpur.
“Keberanianmu menelusuri gelap, agar Tanah Bumbu bisa kembali terang,” begitu mungkin makna di balik piagam itu.
Tiga pelaku kini dibalik jeruji. Satu nama harum disebut anggota Resmob Satreskrim Brigadir Muhamad Andrie.
Karena di usia ke-80, Bhayangkara mengingatkan kita: sejauh apa pun kejahatan berlari ke dalam hutan, hukum akan selalu lebih dulu menunggunya di ujung jalan.






