Banjarmasin, matarakyat.co.id – Upaya membangun kemandirian warga binaan terus diperkuat oleh Lapas Kelas IIA Banjarmasin. Rabu (25/2/2026).
Melalui Seksi Kegiatan Kerja (Giatja), lembaga pemasyarakatan tersebut membentuk Kader Ketahanan Pangan di seluruh blok hunian.
Kegiatan yang digelar di aula lapas itu diikuti lima perwakilan warga binaan dari masing-masing blok.
Mereka dipersiapkan menjadi penggerak program ketahanan pangan sekaligus pengelolaan lingkungan di bloknya.
Pembentukan kader dipimpin Kepala Seksi Giatja, Bagus Paras Etika, didampingi Kasubsi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja Obi Noverianda, serta Plh Kasubsi Sarana Kerja Muhammad Isnandar bersama jajaran.
Dalam arahannya, Bagus menekankan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan bercocok tanam.
Menurutnya, ketahanan pangan juga berkaitan erat dengan pembentukan karakter dan kedisiplinan.
“Ketahanan pangan harus dimulai dari blok masing-masing. Setiap blok akan memiliki bank sampah dengan tempat khusus. Botol plastik dan limbah lainnya bisa dimanfaatkan. Kita mulai dari kebiasaan sederhana, seperti memilah dan membuang sampah sesuai jenisnya,” tegas Bagus.
Untuk memperluas wawasan peserta, panitia juga menayangkan video inspiratif tentang individu yang sukses membangun kemandirian pangan secara mandiri.
Tayangan tersebut diharapkan memicu semangat dan konsistensi para calon kader.
Materi tambahan disampaikan Valentino, peserta Magang Nasional, yang mengulas pentingnya pengelolaan sampah sebagai bagian dari ekosistem ketahanan pangan.
Ia menjelaskan bahwa proses pemilahan harus dimulai sejak awal, ketika sampah dibuang sesuai kategori yang telah disediakan.
Sebagai langkah konkret, Seksi Giatja mendistribusikan tempat sampah terpilah ke seluruh blok hunian, terdiri atas kategori organik, anorganik, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Sampah organik akan diolah menjadi kompos guna mendukung budidaya tanaman, sementara sampah anorganik dipisahkan untuk memudahkan daur ulang.
Adapun limbah B3 ditangani secara khusus sesuai prosedur keamanan.
Salah satu warga binaan berinisial NM mengaku termotivasi mengikuti program tersebut.
Ia menilai ketahanan pangan tidak hanya tentang menanam, tetapi juga tentang membangun disiplin menjaga kebersihan lingkungan.
“Sekarang kami lebih paham bahwa ini soal tanggung jawab bersama. Kalau dimulai dari blok, kami optimistis bisa berjalan konsisten,” ujarnya.
Kalapas Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut.
Ia menegaskan pembinaan kemandirian harus menyentuh aspek kehidupan nyata agar menjadi bekal saat warga binaan kembali ke masyarakat.
“Ketahanan pangan dan kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian dari pola pikir produktif. Ini menjadi bekal penting agar mereka siap berkontribusi positif setelah bebas nanti,” kata Akhmad.
Program kaderisasi ini dirancang berkelanjutan.
Para kader nantinya bertugas mengoordinasikan kegiatan budidaya dan pengelolaan lingkungan di blok masing-masing.
Dari ruang pembinaan lahir komitmen baru, yang diharapkan tumbuh menjadi budaya mandiri dan bertanggung jawab di dalam lapas.






