Banjarbaru, matarakyat.co.id – Pengungkapan hampir 30 kilogram sabu dan lebih dari 15 ribu butir ekstasi di Kalimantan Selatan membuka tabir jaringan narkotika berskala internasional yang diduga masih aktif beroperasi.
Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) memastikan tersangka berinisial IW bukan pemain tunggal.
Ia diduga menjadi bagian dari jaringan yang terafiliasi dengan buronan narkotika internasional, Fredy Pratama.
Kapolda Kalsel, Rosyanto Yudha Hermawan, menjelaskan bahwa peran IW berada pada level distribusi.
Ia bertugas membawa sekaligus menyalurkan barang haram tersebut ke sejumlah titik di Kalimantan Selatan.
“Ini bukan jaringan lokal. Ada indikasi kuat keterkaitan dengan jaringan internasional. Tersangka berperan sebagai kurir sekaligus distributor di wilayah Kalsel,” ujarnya, dalam Konferensi pers, di Aula Polda Kalsel, Selasa (24/2/2026).
Dari hasil penyelidikan, sabu dan ekstasi tersebut masuk ke Kalsel melalui jalur darat.
Barang diduga dikirim dari luar provinsi, lalu dipusatkan di Banjarmasin sebelum disebar ke bandar-bandar lain.
Sebagian besar ekstasi disinyalir akan diedarkan di tempat hiburan malam di Banjarmasin dan Banjarbaru.
Sementara sabu menyasar pasar yang lebih luas, termasuk jaringan pengedar tingkat menengah.
IW disebut menerima upah sekitar Rp15 juta per kilogram sabu yang berhasil diedarkan.
Skema ini menunjukkan sistem kerja terorganisir dengan pembagian peran yang jelas, mulai dari pemasok, penghubung, kurir, hingga distributor daerah.
Meski baru satu orang yang diamankan, kepolisian menegaskan pengungkapan ini baru pintu masuk untuk membongkar jaringan yang lebih besar.
“Kasus ini terus kami kembangkan. Kami mendalami alur komunikasi, aliran dana, serta pihak-pihak lain yang terlibat,” tegas Kapolda.
Nilai ekonomis barang bukti yang disita ditaksir mencapai Rp69 miliar.
Aparat juga menduga distribusi tersebut disiapkan untuk memanfaatkan tingginya perputaran uang selama Ramadan.
Polda Kalsel menegaskan komitmennya memburu aktor-aktor lain dalam jaringan ini, termasuk kemungkinan keterlibatan lintas provinsi bahkan lintas negara.
Polisi pun mengajak masyarakat berperan aktif memberikan informasi guna memutus mata rantai peredaran narkotika di Banua.






