Martapura, matarakyat.co.id – Pemerintah Desa Awang Bangkal Barat, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, terus mengintensifkan upaya penurunan angka stunting.
Hasilnya, prevalensi stunting di desa tersebut turun dari 31 persen menjadi 26 persen hingga Juni 2026.
Capaian tersebut disampaikan dalam Musyawarah Desa (Musdes) yang membahas evaluasi penurunan stunting sekaligus penyusunan RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) Tahun 2027.
Pembakal Desa Awang Bangkal Barat, Pajrul Ripani, mengatakan penurunan angka stunting tidak lepas dari berbagai program kesehatan yang rutin dilaksanakan pemerintah desa bersama tenaga kesehatan dan pihak perusahaan yang beroperasi di wilayah setempat.
“Alhamdulillah, berdasarkan data yang disampaikan tadi, penurunan stunting di desa kami cukup luar biasa. Setiap bulan ada pemeriksaan kesehatan dan pelayanan kesehatan gratis untuk masyarakat,” ujar Pajrul.
Ia menjelaskan, program tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Desa Awang Bangkal Barat, Puskesmas Karang Intan II, dan perusahaan yang beroperasi di wilayah desa.
Menurut Pajrul, selain fokus pada sektor kesehatan, pemerintah desa juga terus berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program bantuan sosial.
Salah satunya dengan melakukan penyesuaian alokasi bantuan bagi warga yang menjalani rawat inap menggunakan BPJS Mandiri.
Jika sebelumnya bantuan rawat inap sebesar Rp2 juta per kasus, kini ditetapkan menjadi Rp1 juta per kasus.
Dana yang dialihkan tersebut digunakan untuk meningkatkan santunan kematian dari Rp1 juta menjadi Rp2 juta per orang.
“Kelebihan anggaran yang sebelumnya untuk rawat inap kami alihkan ke santunan kematian. Yang sebelumnya Rp1 juta sekarang menjadi Rp2 juta per orang,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Pajrul juga mengungkapkan optimisme terhadap peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes).
Ia menargetkan PADes Awang Bangkal Barat pada 2027 dapat mencapai Rp1,8 miliar per tahun.
“Mudah-mudahan pendapatan asli desa terus meningkat sehingga dapat membawa kemakmuran bagi masyarakat Desa Awang Bangkal Barat,” katanya.
Terkait stunting, Pajrul optimistis angka tersebut masih bisa ditekan lebih rendah lagi.
“Kita pastikan angkanya bakal turun lagi. Mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi warga yang mengalami stunting di Desa Awang Bangkal Barat,” tegasnya.
Sementara itu, Camat Karang Intan, Fusaro Riyanto, mengatakan Musdes tersebut menjadi momentum penting untuk menyelaraskan program penurunan stunting dengan perencanaan pembangunan desa tahun 2027.
Menurutnya, penyusunan RKP Desa harus mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) agar program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Musdes ini membahas penanganan stunting yang ada di Desa Awang Bangkal Barat sekaligus penyusunan RKP Desa tahun 2027. Ini penting agar penganggaran pembangunan desa sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah desa,” ujarnya.
Fusaro menambahkan, penurunan angka stunting di desa tersebut didukung berbagai program perbaikan gizi, pemberian makanan tambahan, serta pendampingan kesehatan kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, berdasarkan laporan dari KPM dan Puskesmas Karang Intan II, angka stunting yang sebelumnya 31 persen kini turun menjadi 26 persen. Ini berkat program-program perbaikan gizi, pemberian makanan tambahan, dan berbagai upaya lainnya,” pungkasnya.






