Martapura, matarakyat.co.id – Meningkatnya kasus guru yang dilaporkan orang tua murid ke ranah hukum akibat tindakan kedisiplinan di sekolah kembali menjadi perhatian publik.
Pemerhati pendidikan yang juga Anggota DPRD Kabupaten Banjar, Ali Syahbana, menilai fenomena tersebut harus segera dievaluasi secara menyeluruh.
Menurutnya, perselisihan yang melibatkan guru dan orang tua tidak boleh dibiarkan berkepanjangan karena dapat memengaruhi suasana belajar di sekolah.
“Dunia pendidikan jangan dibiarkan terus berada dalam situasi konflik. Ini menjadi peringatan bagi kita semua,” tegasnya, Minggu (7/12/2025).
Ali menilai, dunia pendidikan membutuhkan dukungan penuh dari semua pihak guru, siswa, orang tua hingga dinas pendidikan agar proses belajar mengajar berjalan optimal.
“Semua unsur harus membangun sinergi untuk menjaga marwah pendidikan. Guru tidak boleh bekerja dalam rasa takut,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa komunikasi merupakan kunci untuk menghindari kesalahpahaman di lingkungan sekolah.
Dengan komunikasi yang baik, kata dia, hubungan antara pendidik dan orang tua dapat terbangun secara sehat.
“Kalau komunikasi terjalin dengan baik, guru mengajar lebih nyaman, orang tua tenang menitipkan anak, dan siswa pun merasa aman belajar,” tambahnya.
Ali juga mengingatkan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang pembinaan karakter, tempat dialog, serta wadah penyelesaian masalah, bukan justru menjadi sumber perseteruan.
“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Tanpa kepercayaan dan komunikasi yang kuat, tujuan pendidikan akan sulit tercapai,” ungkapnya.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kolaborasi demi terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, kondusif, dan harmonis.
“Dengan saling memahami peran masing-masing, kualitas pendidikan kita akan semakin baik,” pungkasnya.






