Tanah Bumbu,matarakyat.co.id –
Pagi itu, aroma harapan menguar dari Gada Ulin. Di bawah langit Tanah Bumbu yang tenang, pisau kurban bergerak bukan sekadar memisahkan daging dari tulang. Ia memotong sekat antara perusahaan dan masyarakat, antara yang memberi dan yang menerima, antara rasa cukup dan rasa syukur.
PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin kembali menunaikan janji tahunannya. Lewat program “Arutmin Berkurban” 1447 Hijriah, semangat berbagi itu menjelma menjadi 1.000 paket daging yang kini mengetuk pintu rumah-rumah di lingkar tambang dan mengetuk hati para santri di pondok pesantren sekitar.
Bukan angka yang paling bergetar. Tapi makna di baliknya.
Tahun ini, empat ekor sapi menebarkan keberkahan: tiga ekor sapi Brahman berbobot hingga 618 kilogram, dan satu ekor sapi Bali di sembelih untuk dibagikan ke sembilan Desa lingkar Tambang PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin.

Kolaborasi hangat ini merangkai PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin, Yayasan Permata Batulicin, dan Rumah Tahfidz menjadi satu napas kepedulian.
“Alhamdulillah, kualitas dan bobot hewan kurban tahun ini meningkat,” ujar Irfan Nurhidayat, Supervisor CDEA PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin, Sabtu 30/5/2026.
Suaranya bergetar menahan haru. “Semoga setiap bungkus daging ini membawa keberkahan dan manfaat bagi masyarakat.”tambahnya.
Kurban tak berhenti di pagar perusahaan. Mitra kerja, kontraktor, hingga subkontraktor Arutmin turut menyembelih di berbagai titik lingkar tambang. Seolah menegaskan: kepedulian tak mengenal batas wilayah.
Bagi Irfan, kurban adalah pelajaran paling tua tentang manusia: belajar ikhlas seperti Ibrahim, belajar taat seperti Ismail.

“Kurban mengajarkan kita menanggalkan kesombongan dan rasa memiliki. Harta, keluarga, semua titipan,” ucapnya pelan.
Di Desa Gunung Raya, Kecamatan Mantewe, Rina menggenggam paket daging itu erat. Matanya berkacakaca.
“Kami ucapkan terima kasih kepada PT Arutmin. Bantuan ini sangat berarti bagi kami dan keluarga,” katanya lirih.
Harapannya sederhana, setulus doa: semoga program ini terus mengalir, dan semoga kebaikan selalu menyertai langkah Arutmin.
Di Gada Ulin, karyawan dan warga berdiri berdampingan saat daging dipotong. Tak ada sekat jabatan, tak ada batas status. Yang ada hanya manusia yang saling menguatkan.

Karena pada akhirnya, Idul Adha bukan tentang daging yang dibagikan.
Ia tentang hati yang disembelih bersama ego, lalu dibagikan kembali sebagai kasih.






