Martapura, matarakyat.co.id — Warga Desa Awang Bangkal Barat, Kabupaten Banjar, mulai mengembangkan produk jamu tradisional berbahan jahe merah dan serai yang diklaim memiliki berbagai manfaat kesehatan, khususnya membantu menurunkan kolesterol dan menjaga kebugaran tubuh.
Produk herbal tersebut diprakarsai oleh tenaga kesehatan dari Puskesmas Karang Intan II, Siti Aminah, yang turut melakukan pembinaan pemanfaatan tanaman obat keluarga atau TOGA di desa tersebut.
Siti Aminah menjelaskan, ide pembuatan jamu muncul setelah melihat banyak warga setempat mengalami kolesterol tinggi akibat aktivitas pekerjaan yang cukup berat, terutama sebagai pekerja batu.
“Kami dari Awang Bangkal Barat membuat produk jamu jahe merah dan serai. Kami memanfaatkan tanaman jahe merah dan serai karena masyarakat di sini banyak bekerja di batu, sehingga banyak yang mengalami kolesterol tinggi,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Ia mengatakan, bahan baku jamu berasal dari kebun TOGA yang dikembangkan masyarakat Desa Awang Bangkal Barat.
Menurutnya, pemanfaatan tanaman herbal lokal tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha rumahan.
Secara tidak langsung, Siti Aminah menuturkan bahwa program pemanfaatan TOGA mendapat respons positif dari masyarakat. Sejak dirinya mulai melakukan pendampingan pada Februari lalu, perkembangan minat warga terhadap produk herbal tersebut terus meningkat.
“Alhamdulillah masyarakat banyak yang minat. Dari bulan Februari saya turun sampai sekarang, sudah ada perkembangan dari masyarakat Desa Awang Bangkal Barat,” katanya.
Ia menjelaskan, jamu berbahan serai dan jahe merah memiliki sejumlah manfaat kesehatan. Serai disebut dapat membantu meredakan perut kembung, melancarkan pencernaan, memberikan efek relaksasi, menghangatkan tubuh, hingga membantu menurunkan berat badan dan kadar kolesterol.
Produk jamu tersebut dipasarkan dengan nama “Jamu Sehat Putra Bulu” dan dijual dengan harga Rp10 ribu per botol.
“Satu botol harganya Rp10 ribu. Minumnya sehari dua kali, pagi dan sore. Satu botol bisa untuk dua kali minum,” jelasnya.
Ia juga menerangkan, produk herbal itu dapat disimpan di dalam kulkas selama satu hingga tiga hari agar kualitasnya tetap terjaga.
Saat ini, pemasaran jamu masih difokuskan untuk masyarakat Desa Awang Bangkal Barat dan wilayah sekitarnya. Namun, pemesanan juga mulai datang dari luar daerah hingga Banjarbaru.
“Sudah sampai ke Banjarbaru juga. Kalau mau pesan bisa langsung menghubungi nomor kami, nanti kami produksi seminggu bisa dua kali,” ungkap Siti Aminah.
Melalui edukasi tanaman obat keluarga (TOGA), masyarakat diperkenalkan kembali pada manfaat jahe merah dan serai sebagai bahan herbal alami yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Jamu khas Desa Awang Bangkal Barat ini disebut telah lama menjadi minuman tradisional yang biasa dikonsumsi warga untuk menjaga kebugaran tubuh.
Jahe merah diketahui mengandung gingerol, antioksidan, dan minyak atsiri yang bermanfaat membantu menghangatkan tubuh, melancarkan peredaran darah, meredakan masuk angin, hingga membantu menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, jahe merah juga dipercaya membantu menurunkan kadar kolesterol dan gula darah.
Sementara serai memiliki kandungan citral, flavonoid, dan antioksidan yang dapat membantu melancarkan pencernaan, meredakan perut kembung, memberikan efek relaksasi, serta menyegarkan tubuh.
Proses pembuatan jamu tradisional ini juga tergolong sederhana. Jahe merah dan serai terlebih dahulu dicuci bersih, kemudian digeprek sebelum direbus selama kurang lebih 15 menit.
Setelah matang, rebusan herbal tersebut dapat ditambahkan gula aren atau madu secukupnya agar cita rasa lebih nikmat saat disajikan hangat.
Dalam panduan konsumsi yang dibagikan kepada masyarakat, minuman herbal ini dianjurkan diminum dua kali sehari untuk orang dewasa dengan takaran sekitar 200 mililiter.
Sedangkan untuk anak usia di atas 12 tahun dianjurkan sebanyak 100 mililiter per hari.
Warga juga diingatkan untuk memperhatikan cara penyimpanan jamu agar kualitasnya tetap terjaga. Pada suhu ruang, jamu herbal dianjurkan dikonsumsi maksimal 24 jam. Sementara jika disimpan di lemari pendingin, minuman dapat bertahan selama tiga hingga lima hari.
Selain menjaga kesehatan, keberadaan jamu khas Desa Awang Bangkal Barat dinilai menjadi bagian dari pelestarian warisan budaya lokal yang memanfaatkan kekayaan tanaman herbal alami Indonesia.
Dengan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap pengobatan alami, jamu tradisional berbahan jahe merah dan serai diharapkan dapat terus dikenal sebagai minuman sehat khas daerah yang memiliki nilai budaya sekaligus manfaat kesehatan.






