Banjarmasin, matarakyat.co.id — Wali Kota Banjarmasin, H. Muhammad Yamin HR, didampingi Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Riza Muttaqin, serta 52 lurah se-Kota Banjarmasin, mengikuti pengarahan khusus terkait penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kegiatan bertema “Optimalisasi Peran Lurah dan Kepala Desa dalam Penanggulangan Karhutla di Provinsi Kalimantan Selatan” tersebut dipimpin oleh Gubernur Kalsel, Ketua DPRD Provinsi Kalsel, dan Kapolda Kalsel di Auditorium Polda Kalsel, Banjarbaru, Kamis (15/10).
Pertemuan ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor serta mengoptimalkan peran aparat di tingkat kelurahan dan desa dalam pencegahan maupun penanganan darurat karhutla.
Wali Kota Banjarmasin, H. Muhammad Yamin HR, mengapresiasi inovasi yang digagas Kapolda Kalsel dalam penanganan karhutla yang tidak hanya menyasar api di permukaan, tetapi juga titik api di bawah permukaan tanah (lahan gambut).
“Kami mengapresiasi inovasi Bapak Kapolda dalam pemadaman api, tidak hanya di permukaan, tetapi juga sampai ke dalam. Harapan kita, ke depan tidak terjadi lagi kebakaran hutan dan lahan seperti ini,” ujar Yamin.
Ia menjelaskan, meskipun Kota Banjarmasin tidak memiliki kawasan hutan yang luas, dampak kabut asap akibat karhutla di daerah sekitar tetap dirasakan oleh masyarakat.
Sebagai langkah antisipasi, Pemko Banjarmasin bersama Forkopimda, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, serta para relawan telah menyiagakan posko pengawasan di sejumlah titik rawan, yakni di wilayah Banjarmasin Utara, Banjarmasin Timur, dan Banjarmasin Selatan.
“Kami bersama Pak Kapolresta, BPBD, dan rekan-rekan Damkar terus memantau wilayah perbatasan. Posko siaga juga sudah disiapkan untuk mendukung penanganan kebakaran,” jelasnya.
Yamin turut mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kabut asap pekat melanda, serta mengenakan masker demi menjaga kesehatan pernapasan.
Sementara itu, Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Riza Muttaqin, mengungkapkan bahwa berdasarkan data BPBD Kota Banjarmasin, tercatat sekitar 77 kejadian kebakaran lahan terjadi sejak Agustus hingga pertengahan Oktober 2026. Pihaknya juga terus mengerahkan personel dalam Operasi Amanusa Intan II guna mendukung penanggulangan karhutla.
“Walaupun Banjarmasin tidak memiliki hutan, tetap ada lahan kosong yang terbakar. Karena itu, kami bersinergi dengan Pemko, BPBD, dan relawan untuk melakukan penanganan, termasuk di wilayah perbatasan,” kata Riza.
Meski demikian, Riza menyoroti kendala teknis di lapangan, seperti keterbatasan peralatan untuk menjangkau titik api yang sulit dilalui kendaraan pemadam. Ia berharap adanya dukungan tambahan sarana prasarana, seperti mesin pompa air portabel (alkon) dan selang pemadam.
“Ketika kebakaran terjadi di sekitar atau di belakang permukiman, terkadang kendaraan tidak bisa masuk. Mudah-mudahan Pemko bisa membantu pengadaan peralatan seperti alkon dan selang, sehingga kami bersama relawan tetap bisa melakukan pemadaman secara maksimal,” harapnya.
- Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, aparat keamanan, jajaran lurah, dan masyarakat, upaya pencegahan serta penanggulangan karhutla di Kalimantan Selatan diharapkan semakin optimal sehingga dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan dapat diminimalkan.






