Martapura, matarakayat.co.id – Musim kemarau yang membuat lahan persawahan mengering dimanfaatkan warga Desa Tanipah, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, untuk menggelar turnamen sepak bola.
Lahan persawahan yang tidak dapat digunakan untuk aktivitas pertanian tersebut disulap menjadi arena pertandingan Tanipah Cup 2026.

Turnamen ini tak sekadar menjadi ajang kompetisi olahraga. Kehadiran puluhan tim dan antusiasme masyarakat membuat kawasan pertandingan berubah menjadi pusat hiburan warga sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Sebanyak 26 tim ambil bagian dalam turnamen tersebut. Pesertanya tidak hanya berasal dari Kabupaten Banjar, tetapi juga dari sejumlah daerah di sekitar Kabupaten Banjar.
Suasana pertandingan berlangsung meriah. Warga dari berbagai kalangan memadati sisi lapangan untuk menyaksikan aksi para pemain.
Anggota DPRD Kabupaten Banjar, Muhammad Saidi, mengapresiasi antusiasme masyarakat dan panitia yang mampu menyelenggarakan turnamen hingga selesai.
“Antusias penonton luar biasa. Saya berterima kasih kepada kawan-kawan panitia yang luar biasa dari awal persiapan sampai akhir. Alhamdulillah berjalan lancar,” ujar Muhammad Saidi.
Menurutnya, Tanipah Cup menjadi salah satu wadah positif bagi masyarakat untuk menyalurkan minat terhadap olahraga sepak bola sekaligus mempererat hubungan antarwarga.
Di balik kemeriahan turnamen, terdapat kondisi yang cukup unik. Lapangan yang digunakan bukanlah fasilitas olahraga permanen, melainkan lahan persawahan yang hanya dapat dimanfaatkan ketika kondisinya mengering.
Muhammad Saidi mengatakan kondisi tersebut membuat kegiatan sepak bola di wilayah Aluh-Aluh sangat bergantung pada musim.
“Bayangkan, lapangan sepak bola ini terjadi karena ada kemarau. Apabila ada kemarau baru bisa ada pertandingan. Satu tahun pun bisa tidak terjadi,” katanya.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas olahraga yang dapat digunakan sepanjang tahun.
Keberadaan lapangan sepak bola permanen dinilai akan memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berolahraga dan mengembangkan bakat.
Ramainya Tanipah Cup 2026 juga memberikan dampak bagi masyarakat di sekitar lokasi pertandingan.
Sejumlah pedagang memanfaatkan keramaian dengan membuka lapak makanan dan minuman.
Aktivitas perdagangan meningkat seiring banyaknya penonton dan pemain yang datang ke lokasi pertandingan.
Dengan demikian, turnamen sepak bola tersebut tidak hanya menjadi ruang kompetisi olahraga, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi bagi warga setempat.
Keramaian yang tercipta selama pertandingan menjadi peluang bagi pelaku usaha kecil untuk memperoleh tambahan pendapatan.
Tanipah Cup 2026 juga membawa misi sosial. Sebagian pendapatan yang diperoleh dari kegiatan selama turnamen akan diarahkan untuk membantu pembangunan masjid di Desa Tanipah.
Muhammad Saidi menjelaskan, sumber dana tersebut di antaranya berasal dari aktivitas parkir dan perdagangan selama turnamen.
“Penghasilan hari ini beberapa ada dari parkir, ada dari orang-orang jualan, itu semua kita sumbangkan ke masjid di Desa Tanipah,” ungkapnya.
Menurutnya, konsep tersebut membuat kegiatan olahraga memiliki manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Turnamen yang awalnya menjadi ajang pertandingan sepak bola akhirnya dapat memberikan kontribusi terhadap kegiatan sosial dan keagamaan di desa.
Pertandingan sepak bola yang digelar di, atas lahan sawah mengering tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar kompetisi.
Warga mendapatkan hiburan, pemain memperoleh ruang untuk bertanding, pedagang mendapatkan peluang usaha, sementara kegiatan sosial juga ikut mendapatkan manfaat.
Tanipah Cup 2026 sekaligus memperlihatkan tingginya minat masyarakat Aluh-Aluh terhadap olahraga sepak bola.
Namun, kondisi lapangan yang masih bergantung pada musim menjadi pekerjaan rumah tersendiri.
Masyarakat berharap ke depan tersedia lapangan sepak bola permanen sehingga kegiatan olahraga dapat berlangsung tanpa harus menunggu lahan persawahan mengering.
Dari sebuah lahan sawah yang kehilangan fungsi sementara akibat kemarau, warga Tanipah justru menciptakan ruang baru untuk olahraga, hiburan, ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.






